Pagi itu, setelah bangun
tidur, aku merasa pusing sekali, suhu tubuh
tinggi dan pegal-pegal di sekujur tubuh.
Padahal kemarin siangnya, aku masih bisa
mengemudikan mobilku seperti biasa,
tanpa ada gangguan apa-apa. Keesokan
sorenya, karena kondisi tubuhku semakin
memburuk, akhirnya aku pergi ke Unit
Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit
terkenal di Jakarta. Ketika aku periksa darah
di laboratorium klinik di rumah sakit
tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku
turun jauh menjadi hampir separuh
trombosit yang normal. Akhirnya karena
aku tidak mau menanggung resiko, sore itu
juga aku terpaksa harus rawat inap alias
diopname di rumah sakit tersebut.
Aku memperoleh kamar di kelas satu. Itu
pun satu-satunya kamar yang masih
tersedia di rumah sakit tersebut. Kamar-
kamar lainnya sudah penuh terisi pasien,
yang sebagian besar di antaranya juga
menderita DBD sepertiku. Di kamar itu, ada
dua tempat tidur, satu milikku dan satunya
lagi untuk seorang pasien lagi, tentu saja
cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal
jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-
ngobrol aku dengannya, ketahuan bahwa
dia sakit gejala tifus.
Akhirnya, aku menghabiskan malam itu
berbaring di rumah sakit. Perasaanku
bosan sekali. Padahal aku baru beberapa
jam saja di situ. Tapi untung saja, teman
sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi
tidak terasa, tahu-tahu jam sudah
menunjukkan pukul sebelas malam. Di
samping mata sudah mengantuk, juga kami
berdua ditegur oleh seorang suster dan
dinasehati supaya istirahat. Aku dan teman
baruku itu tidur.
Saking nyenyaknya aku tidur, aku terkejut
pada saat dibangunkan oleh seorang
suster. Gila! Suster yang satu ini cantik
sekali, sekalipun tubuhnya sedikit gempal
tapi kencang. Aku tidak percaya kalau yang
di depanku itu suster. Aku langsung
mengucek-ngucek mataku. Ih, benar! aku
tak bermimpi! aku sempat membaca name
tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu
membusung, namanya Vika (bukan nama
sebenarnya).
Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun,
kata Suster Vika.Nggg dengan sedikit rasa
segan akhirnya aku bangun juga sekalipun
mata masih terasa berat.Sekarang sudah
tiba saatnya mandi, Mas, kata Suster Vika
lagi.Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya
deh. Saya mau mandi di kamar mandi.Lho,
kan Mas sementara belum boleh bangun
dulu dari tempat tidur sama dokter.Jadi?
Jadi Mas saya yang mandiin.Dimandiin?
Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku
dimandikan waktu aku masih kecil oleh
mamaku.
Setelah menutup tirai putih yang
mengelilingi tempat tidurku, Suster Vika
menyiapkan dua buah baskom plastik berisi
air hangat. Kemudian ada lagi gelas plastik
berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan
sebuah mangkok plastik kecil sebagai
tempat pembuangannya. Pertama-tama kali,
suster yang cantik itu memintaku gosok
gigi terlebih dahulu. Oke, sekarang Mas
buka kaosnya dan berbaring deh, kata
Suster Vika lagi sambil membantuku
melepaskan kaos yang kupakai tanpa
mengganggu selang infus yang
dihubungkan ke pergelangan tanganku.
Lalu aku berbaring di tempat tidur. Suster
Vika menggelar selembar handuk di atas
pahaku.
Cerita Dewasa Suster Ngentot Pasien
Cerita Hot Suster Ngentot Pasien
Cerita Panas Suster Ngentot Pasien
Dengan semacam sarung tangan yang
terbuat dari bahan handuk, Suster Vika
mulai menyabuni tubuhku dengan sabun
yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu
perasaan aneh menjalari tubuhku saat
tangannya yang lembut tengah menyabuni
dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai
turun ke perutku, aku merasakan gerakan
di selangkanganku. Astaga! Ternyata
batang kemaluanku menegang! Aku sudah
takut saja kalau-kalau Suster Vika melihat
hal ini. Uh, untung saja, tampaknya dia tidak
mengetahuinya. Rupanya aku mulai
terangsang karena sapuan tangan Suster
Vika yang masih menyabuni perutku.
Kemudian aku dimintanya berbalik badan,
lalu Suster Vika mulai menyabuni
punggungku, membuat kemaluanku
semakin mengeras. Akhirnya, siksaan (atau
kenikmatan) itu pun usai sudah. Suster Vika
mengeringkan tubuhku dengan handuk
setelah sebelumnya membersihkan sabun
yang menyelimuti tubuhku itu dengan air
hangat.
Nah, sekarang coba Mas buka celananya.
Saya mau mandiin kaki Mas.Tapi, Suster aku
mencoba membantahnya.Celaka,
pikirku.Kalau sampai celanaku dibuka terus
Suster Vika melihat tegangnya batang
kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku
ini.Nggak apa-apa kok, Mas. Jangan malu-
malu. Saya sudah biasa mandiin pasien.
Nggak laki-laki, nggak perempuan,
semuanya.
Akhirnya dengan ditutupi hanya selembar
handuk di selangkanganku, aku
melepaskan celana pendek dan celana
dalamku. Ini membuat batang kemaluanku
tampak semakin menonjol di balik handuk
tersebut. Kacau, aku melihat perubahan di
wajah Suster Vika melihat tonjolan itu.
Wajahku jadi memerah dibuatnya. Suster
Vika kelihatannya sejenak tertegun
menyaksikan ketegangan batang
kemaluanku yang semakin lama semakin
parah. Aku menjadi bertambah salah
tingkah, sampai Suster Vika kembali akan
menyabuni tubuhku bagian bawah.
Suster Vika menelusupkan tangannya yang
memakai sarung tangan berlumuran sabun
ke balik handuk yang menutupi
selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni
bagian bawah perutku dan sekeliling
kemaluanku. Tiba-tiba tangannya dengan
tidak sengaja menyenggol batang
kemaluanku yang langsung saja bertambah
berdiri mengeras. Sekonyong-konyong
tangan Suster Vika memegang kemaluanku
cukup kencang. Kulihat senyum penuh arti
di wajahnya.
Aku mulai menggerinjal-gerinjal saat Suster
Vika mulai menggesek-gesekkan tangannya
yang halus naik turun di sekujur batang
kejantananku. Makin lama makin cepat.
Sementara mataku membelalak seperti
kerasukan setan. Batang kemaluanku yang
memang berukuran cukup panjang dan
cukup besar diameternya masih
dipermainkan Suster Vika dengan
tangannya.
Akibat nafsu yang mulai menggerayangiku,
tanganku menggapai-gapai ke arah dada
Suster Vika. Seperti mengetahui apa
maksudku, Suster Vika mendekatkan
dadanya ke tanganku. Ouh, terasa
nikmatnya tanganku meremas-remas
payudara Suster Vika yang lembut dan
kenyal itu. Memang, payudaranya
berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi
memang yang namanya payudara wanita,
bagaimanapun kecilnya, tetap
membangkitkan nafsu birahi siapa saja
yang menjamahnya. Sementara itu Suster
Vika dengan tubuh yang sedikit bergetar
karena remasan-remasan tanganku pada
payudaranya, masih asyik mengocok-
ngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku
merasakan sudah hampir mencapai
klimaks. Air maniku, kurasakan sudah
hampir tersembur keluar dari dalam
kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster
Vika menghentikan permainannya. Aku
menarik nafas, sedikit jengkel akibat
klimaksku yang menjadi tertunda. Namun
Suster Vika malah tersenyum manis. Ini
sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.
Tahu-tahu, ditariknya handuk yang
menutupi selangkanganku, membuat
batang kemaluanku yang sudah tinggi
menjulang itu terpampang dengan
bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar
benang pun. Tak lama kemudian, batang
kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika.
Mulutnya yang mungil itu seperti karet
mampu mengulum hampir seluruh batang
kemaluanku, membuatku seakan-akan
terlempar ke langit ketujuh merasakan
kenikmatan yang tiada taranya. Dengan
ganasnya, mulut Suster Vika menyedoti
kemaluanku, seakan-akan ingin menelan
habis seluruh isi kemaluanku tersebut.
Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya.
Dan suster nan rupawan itu masih
menyedot dan menghisap alat vitalku
tersebut.
Cerita Dewasa - Belum puas di situ, Suster
Vika mulai menaik-turunkan kepalanya,
membuat kemaluanku hampir keluar
setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi
kemudian masuk lagi. Begitu terus
berulang-ulang dan bertambah cepat.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara
permukaan kemaluanku dengan dinding
mulut Suster Vika membuatku hampir
mencapai klimaks untuk kedua kalinya.
Apalagi ditambah dengan permainan mulut
Suster Vika yang semakin bertambah
ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-
desah. Namun sekali lagi, Suster Vika
berhenti lagi sambil tersenyum. Aku hanya
keheranan, menduga-duga, apa yang akan
dilakukannya.
Aku terkejut ketika melihat Suster Vika
sepertinya akan berjalan menjauhi tempat
tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda,
ia menoleh ke arahku. Ia menarik ujung rok
perawatnya ke atas lalu melepaskan celana
dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua
gumpalan pantatnya yang tidak begitu
besar namun membulat mulut dan kencang,
membuatku menelan air liur. Kemudian ia
membalikkan tubuhnya menghadapku. Di
bawah perutnya yang kencang, tanpa
lipatan-lipatan lemak sedikitpun, walaupun
tubuhnya agak gempal, kulihat liang
kemaluannya yang masih sempit dikelilingi
bulu-bulu halus yang cukup lebat dan
tampak menyegarkan.
Cerita Dewasa Suster Ngentot Pasien
Cerita Hot Suster Ngentot Pasien
Cerita Panas Suster Ngentot Pasien
Tidak kusangka-sangka, tiba-tiba Suster
Vika naik ke atas tempat tidur dan
berjongkok mengangkangi
selangkanganku. Lalu tangannya kembali
memegang batang kemaluanku dan
membimbingnya ke arah liang
kemaluannya. Setelah merasa pas, ia
menurunkan pantatnya, sehingga batang
kemaluanku amblas sampai pangkal ke
dalam liang kemaluannya. Mula-mula sedikit
tersendat-sendat karena begitu sempitnya
liang kenikmatan Suster Vika. Tapi seiring
dengan cairan bening yang semakin
banyak membasahi dinding lubang
kemaluan tersebut, batang kemaluanku
menjadi mudah masuk semua ke dalamnya.
Tanganku mulai membuka kancing baju
Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang
dikenakannya, menyembullah keluar
payudaranya yang kecil tapi membulat itu
dengan puting susunya yang cukup tinggi
dan mengeras. Dengan senangnya, aku
meremas-remas payudaranya yang kenyal.
Puting susunya pun tak ketinggalan
kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal
sebentar-sebentar ketika ibu jari dan jari
telunjukku memuntir-muntir serta
mencubit-cubit puting susunya yang begitu
menggiurkan.
Dibarengi dengan gerakan memutar, Suster
Vika menaik-turunkan pantatnya yang
ramping itu di atas selangkanganku. Batang
kemaluanku masuk keluar dengan
nikmatnya di dalam lubang kemaluannya
yang berdenyut-denyut dan bertambah
basah itu. Batang kemaluanku dijepit oleh
dinding kemaluan Suster Vika yang terus
membiarkan batang kemaluanku dengan
tempo yang semakin cepat menghujam ke
dalamnya. Bertambah cepat bertambah
nikmatnya gesekan-gesekan yang terjadi.
Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah
menuju klimaks sebentar lagi. Aku sedikit
khawatir kalau-kalau klimaksku itu tertunda
lagi.
Akan tetapi kali ini, kelihatannya Suster Vika
tidak mau membuatku kecewa. Begitu
merasakan kemaluanku mulai berdenyut-
denyut kencang, secepat kilat ia
melepaskan batang kemaluanku dari dalam
lubang kemaluannya dan pindah ke dalam
mulutnya. Klimaksku bertambah cepat
datangnya karena kuluman-kuluman mulut
sang suster cantik yang begitu buasnya.
Dan Crot crot crot beberapa kali air maniku
muncrat di dalam mulut Suster Vika dan
sebagian melelehi buah zakarku. Seperti
orang kehausan, Suster Vika menelan
hampir semua cairan kenikmatanku, lalu
menjilati sisanya yang belepotan di sekitar
kemaluanku sampai bersih.
Tiba-tiba tirai tersibak. Aku dan Suster Vika
menoleh kaget. Suster Mimi yang tadi
memandikan teman sekamarku masuk ke
dalam. Ia sejenak melongo melihat apa
yang kami lakukan berdua. Namun sebentar
kemudian tampaknya ia menjadi maklum
atas apa yang terjadi dan malah
menghampiri tempat tidurku. Dengan raut
wajah memohon, ia memandangi Suster
Vika. Suster Vika paham apa niat Suster
Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas
tempat tidur dan menutup tirai kembali.
Suster Mimi yang berwajah manis,
meskipun tidak secantik Suster Vika,
sekarang gantian menjilati seluruh
permukaan batang kemaluanku. Kemudian,
batang kemaluanku yang sudah mulai
tegang kembali disergap mulutnya. Untuk
kedua kalinya, batang kemaluanku yang
kelihatan menantang setiap wanita yang
melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini
mulut Suster Mimi yang tak kalah ganasnya
dengan Suster Vika, mulai menyedot-nyedot
kemaluanku. Sementara jari telunjuknya
disodokkan satu ruas ke dalam lubang
anusku. Sedikit sakit memang, tapi aduhai
nikmatnya.
Merasa puas dengan lahapannya pada
kemaluanku. Suster Mimi kembali berdiri.
Tangannya membukai satu-persatu kancing
baju perawat yang dikenakannya, sehingga
ia tinggal memakai bra dan celana
dalamnya. Aku tidak menyangka, Suster
Mimi yang bertubuh ramping itu memiliki
payudara yang jauh lebih besar daripada
milik Suster Vika, sekitar 36 ukurannya.
Payudara yang sedemikian montoknya itu
seakan-akan mau melompat keluar dari
dalam bra-nya yang bermodel konvensional
itu. Sekalipun bukan termasuk payudara
terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara
Suster Mimi itu menurutku termasuk
payudara yang paling indah. Menyadari aku
yang terus melotot memandangi
payudaranya, Suster Mimi membuka tali
pengikat bra-nya. Benar, payudaranya yang
besar menjuntai montok di dadanya yang
putih dan mulus. Rasa-rasanya ingin aku
menikmati payudara itu.
Tetapi tampaknya keinginan itu tidak
terkabul. Setelah melepas celana dalamnya,
seperti yang telah dilakukan oleh Suster
Vika, Suster Mimi, dengan telanjang bulat
naik ke atas tempat tidurku lalu
mengarahkan batang kemaluanku ke liang
kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari
Suster Vika namun memiliki bulu-bulu yang
tidak begitu lebat. Akhirnya untuk kedua
kalinya batang kemaluanku tenggelam ke
dalam kemaluan wanita. Memang, batang
kemaluanku lebih leluasa memasuki liang
kemaluan Suster Mimi daripada kemaluan
Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika, Suster
Mimi juga mulai menaik-turunkan
pantatnya dan membuat kemaluanku
sempat mencelat keluar dari dalam liang
kemaluannya namun langsung
dimasukkannya lagi.
Tak tahan menganggur, mulut Suster Vika
mulai merambah payudara rekan kerjanya.
Lidahnya yang menjulur-julur bagai lidah
ular menjilati kedua puting susu Suster
Mimi yang walaupun tinggi mengeras tapi
tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku
melihat, Suster Mimi memejamkan matanya,
menikmati senggama yang serasa
membawanya terbang ke awang-awang. Ia
sedang meresapi kenikmatan yang datang
dari dua arah. Dari bawah, dari
kemaluannya yang terus-menerus masih
dihujam batang kemaluanku, dan dari
bagian atas, dari payudaranya yang juga
masih asyik dilumat mulut temannya.
Tiba-tiba tirai tersibak lagi. Namun ketiga
makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu
birahi yang amat membulak-bulak tidak
mengindahkannya. Ternyata yang masuk
adalah teman sekamarku dengan keadaan
bugil. Karena ia merasa terangsang juga, ia
sepertinya melupakan gejala tifus yang
dideritanya. Setelah menutup tirai, ia
menghampiri Suster Vika dari belakang.
Suster Vika sedikit terhenyak ke depan
sewaktu kemaluannya yang dari tadi
terbuka lebar ditusuk batang kejantanan
teman sekamarku dari belakang, dan ia
melepaskan mulutnya dari payudara Suster
Mimi. Kemudian dengan entengnya, sambil
terus menyetubuhi Suster Vika, teman
sekamarku itu mengangkat tubuh suster
bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke tempat
tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak
mengetahui lagi apa yang terjadi antara dia
dengan Suster Vika. Yang kudengar
hanyalah desahan-desahan dan suara nafas
yang terengah-engah dari dua insan
berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku
sendiri masih tenggelam dalam kenikmatan
permainan seks-ku dengan Suster Mimi.
Batang kemaluanku masih menjelajahi
dengan bebasnya di dalam lubang
kemaluan Suster Mimi yang semakin cepat
memutar-mutar dan menggerak-gerakan
pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama
kemudian, kami berdua mengejang.Suster
Saya mau keluar kataku terengah-engah.Ah
Keluarin di dalam saja Mas jawab Suster
Mimi.Akhirnya dengan gerinjalan keras, air
maniku berpadu dengan cairan kenikmatan
Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya.
Saking lelahnya, Suster Mimi jatuh terduduk
di atas selangkanganku dengan batang
kemaluanku masih menancap di dalam
lubang kemaluannya. Kami sama-sama
tertawa puas.
Sementara dari balik tirai masih terdengar
suara kenikmatan sepasang makhluk yang
tengah asyik-asyiknya memadu kasih tanpa
mempedulikan sekelilingnya.
Tepat seminggu kemudian, aku sudah
dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita
dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku
menyesal, merasa akan kehilangan dua
orang suster yang telah memberikan
kenikmatan tiada tandingannya kepadaku
beberapa kali.
Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan
sedang asyik membaca majalah Gatra yang
baru aku beli di tukang majalah dekat
rumah.Ting tong Bel pintu rumahku
dipencet orang.Aku membuka pintu.
Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu
adalah dua orang gadis rupawan yang
selama ini aku idam-idamkan, Suster Vika
dan Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini
sama-sama mengenakan kaos oblong,
membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua
yang memang indah menjadi bertambah
molek lagi dengan payudara mereka yang
meskipun beda ukurannya, namun sama-
sama membulat dan kencang. Sementara
Suster Vika dengan celana jeansnya yang
ketat, membuat pantatnya yang montok
semakin menggairahkan, di samping Suster
Mimi yang mengenakan rok mini beberapa
sentimeter di atas lutut sehingga
memamerkan pahanya yang putih dan
mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi
pemandangan sedap yang tentu saja
menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau
membuang waktu, kuajak mereka berdua
ke kamar tidurku.
Cerita Dewasa - Dan seperti sudah kuduga,
tanpa basa basi mereka mau dan
mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca
semua pasti sudah tahu, apa yang akan
terjadi kemudian dengan kami bertiga.
Suster Ngentot
Cerita Dewasa Suster Ngentot
Pasien
tidur, aku merasa pusing sekali, suhu tubuh
tinggi dan pegal-pegal di sekujur tubuh.
Padahal kemarin siangnya, aku masih bisa
mengemudikan mobilku seperti biasa,
tanpa ada gangguan apa-apa. Keesokan
sorenya, karena kondisi tubuhku semakin
memburuk, akhirnya aku pergi ke Unit
Gawat Darurat (UGD) sebuah rumah sakit
terkenal di Jakarta. Ketika aku periksa darah
di laboratorium klinik di rumah sakit
tersebut, ternyata hasilnya trombosit-ku
turun jauh menjadi hampir separuh
trombosit yang normal. Akhirnya karena
aku tidak mau menanggung resiko, sore itu
juga aku terpaksa harus rawat inap alias
diopname di rumah sakit tersebut.
Aku memperoleh kamar di kelas satu. Itu
pun satu-satunya kamar yang masih
tersedia di rumah sakit tersebut. Kamar-
kamar lainnya sudah penuh terisi pasien,
yang sebagian besar di antaranya juga
menderita DBD sepertiku. Di kamar itu, ada
dua tempat tidur, satu milikku dan satunya
lagi untuk seorang pasien lagi, tentu saja
cowok juga dong. Kalau cewek sih bakal
jadi huru-hara tuh! Dari hasil ngobrol-
ngobrol aku dengannya, ketahuan bahwa
dia sakit gejala tifus.
Akhirnya, aku menghabiskan malam itu
berbaring di rumah sakit. Perasaanku
bosan sekali. Padahal aku baru beberapa
jam saja di situ. Tapi untung saja, teman
sekamarku senang sekali mengobrol. Jadi
tidak terasa, tahu-tahu jam sudah
menunjukkan pukul sebelas malam. Di
samping mata sudah mengantuk, juga kami
berdua ditegur oleh seorang suster dan
dinasehati supaya istirahat. Aku dan teman
baruku itu tidur.
Saking nyenyaknya aku tidur, aku terkejut
pada saat dibangunkan oleh seorang
suster. Gila! Suster yang satu ini cantik
sekali, sekalipun tubuhnya sedikit gempal
tapi kencang. Aku tidak percaya kalau yang
di depanku itu suster. Aku langsung
mengucek-ngucek mataku. Ih, benar! aku
tak bermimpi! aku sempat membaca name
tag di dadanya yang sayangnya tidak begitu
membusung, namanya Vika (bukan nama
sebenarnya).
Mas, sudah pagi. Sudah waktunya bangun,
kata Suster Vika.Nggg dengan sedikit rasa
segan akhirnya aku bangun juga sekalipun
mata masih terasa berat.Sekarang sudah
tiba saatnya mandi, Mas, kata Suster Vika
lagi.Oh ya. Suster, saya pinjam handuknya
deh. Saya mau mandi di kamar mandi.Lho,
kan Mas sementara belum boleh bangun
dulu dari tempat tidur sama dokter.Jadi?
Jadi Mas saya yang mandiin.Dimandiin?
Wah, asyik juga kayaknya sih. Terakhir aku
dimandikan waktu aku masih kecil oleh
mamaku.
Setelah menutup tirai putih yang
mengelilingi tempat tidurku, Suster Vika
menyiapkan dua buah baskom plastik berisi
air hangat. Kemudian ada lagi gelas plastik
berisi air hangat pula untuk gosok gigi dan
sebuah mangkok plastik kecil sebagai
tempat pembuangannya. Pertama-tama kali,
suster yang cantik itu memintaku gosok
gigi terlebih dahulu. Oke, sekarang Mas
buka kaosnya dan berbaring deh, kata
Suster Vika lagi sambil membantuku
melepaskan kaos yang kupakai tanpa
mengganggu selang infus yang
dihubungkan ke pergelangan tanganku.
Lalu aku berbaring di tempat tidur. Suster
Vika menggelar selembar handuk di atas
pahaku.
Cerita Dewasa Suster Ngentot Pasien
Cerita Hot Suster Ngentot Pasien
Cerita Panas Suster Ngentot Pasien
Dengan semacam sarung tangan yang
terbuat dari bahan handuk, Suster Vika
mulai menyabuni tubuhku dengan sabun
yang kubawa dari rumah. Ah, terasa suatu
perasaan aneh menjalari tubuhku saat
tangannya yang lembut tengah menyabuni
dadaku. Ketika tangan Suster Vika mulai
turun ke perutku, aku merasakan gerakan
di selangkanganku. Astaga! Ternyata
batang kemaluanku menegang! Aku sudah
takut saja kalau-kalau Suster Vika melihat
hal ini. Uh, untung saja, tampaknya dia tidak
mengetahuinya. Rupanya aku mulai
terangsang karena sapuan tangan Suster
Vika yang masih menyabuni perutku.
Kemudian aku dimintanya berbalik badan,
lalu Suster Vika mulai menyabuni
punggungku, membuat kemaluanku
semakin mengeras. Akhirnya, siksaan (atau
kenikmatan) itu pun usai sudah. Suster Vika
mengeringkan tubuhku dengan handuk
setelah sebelumnya membersihkan sabun
yang menyelimuti tubuhku itu dengan air
hangat.
Nah, sekarang coba Mas buka celananya.
Saya mau mandiin kaki Mas.Tapi, Suster aku
mencoba membantahnya.Celaka,
pikirku.Kalau sampai celanaku dibuka terus
Suster Vika melihat tegangnya batang
kemaluanku, mau ditaruh di mana wajahku
ini.Nggak apa-apa kok, Mas. Jangan malu-
malu. Saya sudah biasa mandiin pasien.
Nggak laki-laki, nggak perempuan,
semuanya.
Akhirnya dengan ditutupi hanya selembar
handuk di selangkanganku, aku
melepaskan celana pendek dan celana
dalamku. Ini membuat batang kemaluanku
tampak semakin menonjol di balik handuk
tersebut. Kacau, aku melihat perubahan di
wajah Suster Vika melihat tonjolan itu.
Wajahku jadi memerah dibuatnya. Suster
Vika kelihatannya sejenak tertegun
menyaksikan ketegangan batang
kemaluanku yang semakin lama semakin
parah. Aku menjadi bertambah salah
tingkah, sampai Suster Vika kembali akan
menyabuni tubuhku bagian bawah.
Suster Vika menelusupkan tangannya yang
memakai sarung tangan berlumuran sabun
ke balik handuk yang menutupi
selangkanganku. Mula-mula ia menyabuni
bagian bawah perutku dan sekeliling
kemaluanku. Tiba-tiba tangannya dengan
tidak sengaja menyenggol batang
kemaluanku yang langsung saja bertambah
berdiri mengeras. Sekonyong-konyong
tangan Suster Vika memegang kemaluanku
cukup kencang. Kulihat senyum penuh arti
di wajahnya.
Aku mulai menggerinjal-gerinjal saat Suster
Vika mulai menggesek-gesekkan tangannya
yang halus naik turun di sekujur batang
kejantananku. Makin lama makin cepat.
Sementara mataku membelalak seperti
kerasukan setan. Batang kemaluanku yang
memang berukuran cukup panjang dan
cukup besar diameternya masih
dipermainkan Suster Vika dengan
tangannya.
Akibat nafsu yang mulai menggerayangiku,
tanganku menggapai-gapai ke arah dada
Suster Vika. Seperti mengetahui apa
maksudku, Suster Vika mendekatkan
dadanya ke tanganku. Ouh, terasa
nikmatnya tanganku meremas-remas
payudara Suster Vika yang lembut dan
kenyal itu. Memang, payudaranya
berukuran kecil, kutaksir hanya 32. Tapi
memang yang namanya payudara wanita,
bagaimanapun kecilnya, tetap
membangkitkan nafsu birahi siapa saja
yang menjamahnya. Sementara itu Suster
Vika dengan tubuh yang sedikit bergetar
karena remasan-remasan tanganku pada
payudaranya, masih asyik mengocok-
ngocok kemaluanku. Sampai akhirnya aku
merasakan sudah hampir mencapai
klimaks. Air maniku, kurasakan sudah
hampir tersembur keluar dari dalam
kemaluanku. Tapi dengan sengaja, Suster
Vika menghentikan permainannya. Aku
menarik nafas, sedikit jengkel akibat
klimaksku yang menjadi tertunda. Namun
Suster Vika malah tersenyum manis. Ini
sedikit menghilangkan kedongkolanku itu.
Tahu-tahu, ditariknya handuk yang
menutupi selangkanganku, membuat
batang kemaluanku yang sudah tinggi
menjulang itu terpampang dengan
bebasnya tanpa ditutupi oleh selembar
benang pun. Tak lama kemudian, batang
kemaluanku mulai dilahap oleh Suster Vika.
Mulutnya yang mungil itu seperti karet
mampu mengulum hampir seluruh batang
kemaluanku, membuatku seakan-akan
terlempar ke langit ketujuh merasakan
kenikmatan yang tiada taranya. Dengan
ganasnya, mulut Suster Vika menyedoti
kemaluanku, seakan-akan ingin menelan
habis seluruh isi kemaluanku tersebut.
Tubuhku terguncang-guncang dibuatnya.
Dan suster nan rupawan itu masih
menyedot dan menghisap alat vitalku
tersebut.
Cerita Dewasa - Belum puas di situ, Suster
Vika mulai menaik-turunkan kepalanya,
membuat kemaluanku hampir keluar
setengahnya dari dalam mulutnya, tetapi
kemudian masuk lagi. Begitu terus
berulang-ulang dan bertambah cepat.
Gesekan-gesekan yang terjadi antara
permukaan kemaluanku dengan dinding
mulut Suster Vika membuatku hampir
mencapai klimaks untuk kedua kalinya.
Apalagi ditambah dengan permainan mulut
Suster Vika yang semakin bertambah
ganasnya. Beberapa kali aku mendesah-
desah. Namun sekali lagi, Suster Vika
berhenti lagi sambil tersenyum. Aku hanya
keheranan, menduga-duga, apa yang akan
dilakukannya.
Aku terkejut ketika melihat Suster Vika
sepertinya akan berjalan menjauhi tempat
tidurku. Tetapi seperti sedang menggoda,
ia menoleh ke arahku. Ia menarik ujung rok
perawatnya ke atas lalu melepaskan celana
dalam krem yang dipakainya. Melihat kedua
gumpalan pantatnya yang tidak begitu
besar namun membulat mulut dan kencang,
membuatku menelan air liur. Kemudian ia
membalikkan tubuhnya menghadapku. Di
bawah perutnya yang kencang, tanpa
lipatan-lipatan lemak sedikitpun, walaupun
tubuhnya agak gempal, kulihat liang
kemaluannya yang masih sempit dikelilingi
bulu-bulu halus yang cukup lebat dan
tampak menyegarkan.
Cerita Dewasa Suster Ngentot Pasien
Cerita Hot Suster Ngentot Pasien
Cerita Panas Suster Ngentot Pasien
Tidak kusangka-sangka, tiba-tiba Suster
Vika naik ke atas tempat tidur dan
berjongkok mengangkangi
selangkanganku. Lalu tangannya kembali
memegang batang kemaluanku dan
membimbingnya ke arah liang
kemaluannya. Setelah merasa pas, ia
menurunkan pantatnya, sehingga batang
kemaluanku amblas sampai pangkal ke
dalam liang kemaluannya. Mula-mula sedikit
tersendat-sendat karena begitu sempitnya
liang kenikmatan Suster Vika. Tapi seiring
dengan cairan bening yang semakin
banyak membasahi dinding lubang
kemaluan tersebut, batang kemaluanku
menjadi mudah masuk semua ke dalamnya.
Tanganku mulai membuka kancing baju
Suster Vika. Setelah kutanggalkan bra yang
dikenakannya, menyembullah keluar
payudaranya yang kecil tapi membulat itu
dengan puting susunya yang cukup tinggi
dan mengeras. Dengan senangnya, aku
meremas-remas payudaranya yang kenyal.
Puting susunya pun tak ketinggalan
kujamah. Suster Vika menggerinjal-gerinjal
sebentar-sebentar ketika ibu jari dan jari
telunjukku memuntir-muntir serta
mencubit-cubit puting susunya yang begitu
menggiurkan.
Dibarengi dengan gerakan memutar, Suster
Vika menaik-turunkan pantatnya yang
ramping itu di atas selangkanganku. Batang
kemaluanku masuk keluar dengan
nikmatnya di dalam lubang kemaluannya
yang berdenyut-denyut dan bertambah
basah itu. Batang kemaluanku dijepit oleh
dinding kemaluan Suster Vika yang terus
membiarkan batang kemaluanku dengan
tempo yang semakin cepat menghujam ke
dalamnya. Bertambah cepat bertambah
nikmatnya gesekan-gesekan yang terjadi.
Akhirnya untuk ketiga kalinya aku sudah
menuju klimaks sebentar lagi. Aku sedikit
khawatir kalau-kalau klimaksku itu tertunda
lagi.
Akan tetapi kali ini, kelihatannya Suster Vika
tidak mau membuatku kecewa. Begitu
merasakan kemaluanku mulai berdenyut-
denyut kencang, secepat kilat ia
melepaskan batang kemaluanku dari dalam
lubang kemaluannya dan pindah ke dalam
mulutnya. Klimaksku bertambah cepat
datangnya karena kuluman-kuluman mulut
sang suster cantik yang begitu buasnya.
Dan Crot crot crot beberapa kali air maniku
muncrat di dalam mulut Suster Vika dan
sebagian melelehi buah zakarku. Seperti
orang kehausan, Suster Vika menelan
hampir semua cairan kenikmatanku, lalu
menjilati sisanya yang belepotan di sekitar
kemaluanku sampai bersih.
Tiba-tiba tirai tersibak. Aku dan Suster Vika
menoleh kaget. Suster Mimi yang tadi
memandikan teman sekamarku masuk ke
dalam. Ia sejenak melongo melihat apa
yang kami lakukan berdua. Namun sebentar
kemudian tampaknya ia menjadi maklum
atas apa yang terjadi dan malah
menghampiri tempat tidurku. Dengan raut
wajah memohon, ia memandangi Suster
Vika. Suster Vika paham apa niat Suster
Mimi. Ia langsung meloncat turun dari atas
tempat tidur dan menutup tirai kembali.
Suster Mimi yang berwajah manis,
meskipun tidak secantik Suster Vika,
sekarang gantian menjilati seluruh
permukaan batang kemaluanku. Kemudian,
batang kemaluanku yang sudah mulai
tegang kembali disergap mulutnya. Untuk
kedua kalinya, batang kemaluanku yang
kelihatan menantang setiap wanita yang
melihatnya, menjadi korban lumatan. Kali ini
mulut Suster Mimi yang tak kalah ganasnya
dengan Suster Vika, mulai menyedot-nyedot
kemaluanku. Sementara jari telunjuknya
disodokkan satu ruas ke dalam lubang
anusku. Sedikit sakit memang, tapi aduhai
nikmatnya.
Merasa puas dengan lahapannya pada
kemaluanku. Suster Mimi kembali berdiri.
Tangannya membukai satu-persatu kancing
baju perawat yang dikenakannya, sehingga
ia tinggal memakai bra dan celana
dalamnya. Aku tidak menyangka, Suster
Mimi yang bertubuh ramping itu memiliki
payudara yang jauh lebih besar daripada
milik Suster Vika, sekitar 36 ukurannya.
Payudara yang sedemikian montoknya itu
seakan-akan mau melompat keluar dari
dalam bra-nya yang bermodel konvensional
itu. Sekalipun bukan termasuk payudara
terbesar yang pernah kulihat, tapi payudara
Suster Mimi itu menurutku termasuk
payudara yang paling indah. Menyadari aku
yang terus melotot memandangi
payudaranya, Suster Mimi membuka tali
pengikat bra-nya. Benar, payudaranya yang
besar menjuntai montok di dadanya yang
putih dan mulus. Rasa-rasanya ingin aku
menikmati payudara itu.
Tetapi tampaknya keinginan itu tidak
terkabul. Setelah melepas celana dalamnya,
seperti yang telah dilakukan oleh Suster
Vika, Suster Mimi, dengan telanjang bulat
naik ke atas tempat tidurku lalu
mengarahkan batang kemaluanku ke liang
kemaluannya yang sedikit lebih lebar dari
Suster Vika namun memiliki bulu-bulu yang
tidak begitu lebat. Akhirnya untuk kedua
kalinya batang kemaluanku tenggelam ke
dalam kemaluan wanita. Memang, batang
kemaluanku lebih leluasa memasuki liang
kemaluan Suster Mimi daripada kemaluan
Suster Vika tadi. Seperti Suster Vika, Suster
Mimi juga mulai menaik-turunkan
pantatnya dan membuat kemaluanku
sempat mencelat keluar dari dalam liang
kemaluannya namun langsung
dimasukkannya lagi.
Tak tahan menganggur, mulut Suster Vika
mulai merambah payudara rekan kerjanya.
Lidahnya yang menjulur-julur bagai lidah
ular menjilati kedua puting susu Suster
Mimi yang walaupun tinggi mengeras tapi
tidak setinggi puting susunya sendiri. Aku
melihat, Suster Mimi memejamkan matanya,
menikmati senggama yang serasa
membawanya terbang ke awang-awang. Ia
sedang meresapi kenikmatan yang datang
dari dua arah. Dari bawah, dari
kemaluannya yang terus-menerus masih
dihujam batang kemaluanku, dan dari
bagian atas, dari payudaranya yang juga
masih asyik dilumat mulut temannya.
Tiba-tiba tirai tersibak lagi. Namun ketiga
makhluk hidup yang sedang terbawa nafsu
birahi yang amat membulak-bulak tidak
mengindahkannya. Ternyata yang masuk
adalah teman sekamarku dengan keadaan
bugil. Karena ia merasa terangsang juga, ia
sepertinya melupakan gejala tifus yang
dideritanya. Setelah menutup tirai, ia
menghampiri Suster Vika dari belakang.
Suster Vika sedikit terhenyak ke depan
sewaktu kemaluannya yang dari tadi
terbuka lebar ditusuk batang kejantanan
teman sekamarku dari belakang, dan ia
melepaskan mulutnya dari payudara Suster
Mimi. Kemudian dengan entengnya, sambil
terus menyetubuhi Suster Vika, teman
sekamarku itu mengangkat tubuh suster
bahenol itu ke luar tirai dan pergi ke tempat
tidurnya sendiri. Sejak saat itu aku tidak
mengetahui lagi apa yang terjadi antara dia
dengan Suster Vika. Yang kudengar
hanyalah desahan-desahan dan suara nafas
yang terengah-engah dari dua insan
berlainan jenis dari balik tirai, di sampingku
sendiri masih tenggelam dalam kenikmatan
permainan seks-ku dengan Suster Mimi.
Batang kemaluanku masih menjelajahi
dengan bebasnya di dalam lubang
kemaluan Suster Mimi yang semakin cepat
memutar-mutar dan menggerak-gerakan
pantatnya ke atas dan ke bawah. Tak lama
kemudian, kami berdua mengejang.Suster
Saya mau keluar kataku terengah-engah.Ah
Keluarin di dalam saja Mas jawab Suster
Mimi.Akhirnya dengan gerinjalan keras, air
maniku berpadu dengan cairan kenikmatan
Suster Mimi di dalam lubang kemaluannya.
Saking lelahnya, Suster Mimi jatuh terduduk
di atas selangkanganku dengan batang
kemaluanku masih menancap di dalam
lubang kemaluannya. Kami sama-sama
tertawa puas.
Sementara dari balik tirai masih terdengar
suara kenikmatan sepasang makhluk yang
tengah asyik-asyiknya memadu kasih tanpa
mempedulikan sekelilingnya.
Tepat seminggu kemudian, aku sudah
dinyatakan sembuh dari DBD yang kuderita
dan diperbolehkan pulang. Ini membuatku
menyesal, merasa akan kehilangan dua
orang suster yang telah memberikan
kenikmatan tiada tandingannya kepadaku
beberapa kali.
Hari ini aku sedang sendirian di rumah dan
sedang asyik membaca majalah Gatra yang
baru aku beli di tukang majalah dekat
rumah.Ting tong Bel pintu rumahku
dipencet orang.Aku membuka pintu.
Astaga! Ternyata yang ada di balik pintu
adalah dua orang gadis rupawan yang
selama ini aku idam-idamkan, Suster Vika
dan Suster Mimi. Kedua makhluk cantik ini
sama-sama mengenakan kaos oblong,
membuat lekuk-lekuk tubuh mereka berdua
yang memang indah menjadi bertambah
molek lagi dengan payudara mereka yang
meskipun beda ukurannya, namun sama-
sama membulat dan kencang. Sementara
Suster Vika dengan celana jeansnya yang
ketat, membuat pantatnya yang montok
semakin menggairahkan, di samping Suster
Mimi yang mengenakan rok mini beberapa
sentimeter di atas lutut sehingga
memamerkan pahanya yang putih dan
mulus tanpa noda. Kedua-duanya menjadi
pemandangan sedap yang tentu saja
menjadi pelepas kerinduanku. Tanpa mau
membuang waktu, kuajak mereka berdua
ke kamar tidurku.
Cerita Dewasa - Dan seperti sudah kuduga,
tanpa basa basi mereka mau dan
mengikutiku. Dan tentu saja, para pembaca
semua pasti sudah tahu, apa yang akan
terjadi kemudian dengan kami bertiga.
Suster Ngentot
Cerita Dewasa Suster Ngentot
Pasien
EmoticonEmoticon